Upacara bendera pada Senin, 22 Januari 2024, sedikit berbeda dari upacara-upacara sebelumnya. Pasalnya, yang bertindak sebagai pembina upacara adalah Bhabinsa Desa Mertapada Kulon.
Konsep ini diinisasi oleh Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan, yakni Mohamad Majdi. Ia menilai bahwa hal ini bisa menjadi salah satu cara untuk mendisiplinkan siswa.
“Salah satu tujuan kami mendatangkan Bhabinsa adalah untuk mendisiplinkan siswa. Terkadang siswa sudah segan dengan melihat seragam tentara saja,” katanya.
Guru mata pelajaran Biologi itu juga menyampaikan bahwa siswa butuh motivasi dari kalangan di luar lingkungan sekolah. Bhabinsa bukan hanya diharapkan dapat mendisiplinkan, tetapi juga memotivasi.
“Siswa butuh motivasi dari para praktisi yang sudah berkecimpung di bidangnya, supaya siswa bisa lebih percaya dan mendengarkan karena yang berbicara sudah membuktikan,” imbuhnya.
Bhabinsa sendiri menyampaikan beberapa hal yang menjadi titik fokus dari apa yang selama ini merebak di kalangan siswa, di antaranya adalah kenakalan remaja.
Seperti diketahui, siswa MANU Putra adalah remaja yang memiliki rentang usia 15 – 18 tahun. Bhabinsa menilai di rentang usia tersebut rawan terjadi hal-hal yang disebut sebagai kenakalan remaja tadi.
Ia pun menekankan dan mengingatkan kembali tentang siapa sebenanya jati diri siswa MANU Putra yang notabene adalah santri.
“Bedanya siswa-siswa di luar sana dengan kalian adalah kalau kalian sih santri. Santri itu dekat dengan kiai, kecipratan berkahnya kiai. Kalau ini belum kalian rasakan sebagai keistimewaan, setidaknya mudah-mudahan ini bisa menjadi rem kalau sewaktu-waktu ada pikiran-pikiran negatif yang bisa membahayakan diri kalian sendiri,” ujarnya.
Upacara kali ini juga memperlihatkan perbedaan yang cukup mencolok dari segi barisan peserta upacara, yakni lebih rapi. Hal itu karena sebelum Bhabinsa berbicara selaku pembina upacara, ia terlebih dahulu merapikan barisan ala militer. []