MANU PUTRA BUNTET PESANTREN

Komplek Buntet Pesantren Desa Mertapada Kulon Kec. Astanajapura Kabupaten Cirebon, Jawa Barat 45181
P: - (0231) 636597 E: manuputra_buntet@yahoo.co.id

"AN-NAHT" AKRONIM VERSI LINGUISTIK ARAB

Diposting : Ami Dailami   Tanggal : 05 November 2018 16:00:30   Dibaca : 484 Kali

Oleh: Muhammad Hamdi, M.Ag

Sebelum membahas akronim dalam Bahasa Arab, ada baiknya diungkapkan terlebih dahulu pengertiannya menurut Bahasa Indonesia. Akronim menurut KBBI adalah “kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang wajar (misalnya mayjen mayor jenderal, rudal peluru kendali, dan sidak inspeksi mendadak)”.

Akronim berbeda dengan singkatan (abbreviation), karena singkatan tidak selamanya membentuk kata baru. Namun dalam perkembangannya tidak sedikit yang menganggap bahwa himpunan inisial yang tidak menghasilkan kata yang baru juga dinamakan akronim. Gramatika (nahwu) dan morfologi Arab (sharaf) mengenal pola semacam akronim ini, meskipun kaidah akronim dalam linguistik Arab tidaklah sama dengan akronim dalam Bahasa Indonesia ataupun Bahasa Inggris. Akronim versi linguistik Arab dikenal dengan istilah an-nah(النَّحت).

Musthafa Al-Ghalayini (w. 1944 M/1364 H) dalam Jami’ ad-Durus al-Arabiyyah mendefinisikan bahwa an-naht adalah memendekkan dua kata atau lebih ke dalam satu kata. Dalam an-naht tidak disyaratkan adanya keterwakilan huruf dari setiap kata yang dipendekkan, tidak pula kesesuaian harakat. Namun disyaratkan menyesuaikan urutan huruf.

Berdasarkan morfologi, an-naht mengikuti konjugasi (wazan) verba ruba’i mujarrad (quadruple verb)yakni fa’lala (فَعْلَلَ). Kendati demikian, an-naht ini bersifat sama’i (non analogis), dalam arti tidak bisa dibentuk begitu saja mengikuti konjugasi ini. An-naht terbentuk dari penggunaannya oleh orang-orang Arab dalam bahasa mereka. Namun pada masa kontemporer, ketika beberapa bahasa suatu bangsa mengalami perkembangan, semestinya pembentukan an-naht secara analogi (qiyas) tidak bisa disalahkan. Bahkan sebagian pakar berpendapat bahwa ia bersifat analogis (qiyasi). Selama kalimat itu bisa diringkas, maka ia boleh di-akronim-kan.

Di antara contoh an-naht adalah بَسْمَلَ yang artinya ia mengucapkan “bismillahirrahmanirrahim”, حَمْدَلَ yang artinya “ia mengucapkan alhamdulillah”, حَوْقَلَ yang artinya “ia mengucapkan la haula wala quwwata illa billah”, حَسْبَلَ yang artinya “ia mengucapkan hasbiyallah”, سَبْحَلَ yang artinya “ia mengucapkan subhanallah”, سَمْعَلَ yang artinya “ia mengucapkan assalamu’alaikum”, طَلْبَقَ yang artinya “ia mengucapkan athalallah baqa’ak”, dan حَيْعَلَ yang artinya “ia mengucapkan hayya ‘ala ash-shalah dan hayya ‘ala al-falah”.

Bentuk ism (noun/kata benda) dari contoh-contoh di atas adalah sesuai konjugasi mashdar-nya, yaitu basmalah, hamdalah, hauqalah, hasbalah, sabhalahsam’alahthalbaqah dan hay’alah. Adapun هَيْلَلَ yang bermakna “ia banyak membaca la ilaha illallah” adalah mulhaq (disamakan) dengan ruba’i majjarad dalam hal konjugasi (tashrif).

Termasuk ke dalam an-naht adalah setiap derivasi (isytiqaq) suatu verba (fi’l) dari kata benda (ism), seperti:

  • فَلْفَلْتُ الطَّعَامَ yang berarti “وَضَعْتُ فِيهِ الفُلْفُلَ/saya membubuhi lada ke dalam makanan”.
  • نَرْجَسْتُ الدَّوَاءَ yang berarti “وَضَعْتُ فِيهِ النَّرْجِسَ/saya membubuhkan bunga narcissus ke dalam obat”.

Pada kedua contoh ini, verba “فَلْفَلَ” terbentuk dari “الفُلْفُل”, dan “نَرْجَسَ” terbentuk dari “النَّرْجِسَ”. #

والله أعلم